Nobar Film “Pesta Babi” di Jember Jadi Ruang Diskusi Kritik Pembangunan dan Isu Papua

JEMBER,Kabarjelas.com – Nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mulai ramai digelar di berbagai daerah, termasuk di Jember. Kegiatan tersebut tak sekadar menjadi ajang menonton film, tetapi juga ruang diskusi publik mengenai isu Papua, proyek strategis nasional, hingga kritik terhadap model pembangunan negara.

Film dokumenter garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale itu mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang terdampak proyek pembukaan hutan skala besar di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Dalam sejumlah agenda nobar yang digelar komunitas mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil di berbagai kota, film tersebut memantik diskusi soal relasi negara, investasi, lingkungan, dan hak masyarakat adat.

Di Jember, nobar film itu juga menarik perhatian mahasiswa dan aktivis muda karena dianggap membuka perspektif baru terkait dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal.

“Film ini bukan hanya bicara Papua, tetapi juga soal bagaimana pembangunan sering kali berjalan tanpa mendengar suara masyarakat kecil,” ujar salah satu peserta diskusi.

Fenomena nobar Pesta Babi sendiri terus meluas di berbagai daerah Indonesia. Dalam unggahan media sosial penyelenggara, titik nobar disebut digelar dari Aceh hingga Papua bahkan sampai Timor Leste.

Namun di sisi lain, film tersebut juga menuai kontroversi. Sejumlah pihak menilai narasi dalam dokumenter itu terlalu kritis terhadap proyek pemerintah dan berpotensi membangun persepsi negatif terhadap pembangunan nasional di Papua.

Meski demikian, bagi banyak kalangan muda, nobar dan diskusi film justru dipandang penting sebagai ruang demokrasi dan pendidikan publik agar masyarakat dapat melihat berbagai sudut pandang secara lebih terbuka.

Film Pesta Babi diproduksi melalui kolaborasi sejumlah lembaga seperti Jubi, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.

Sebarkan

Lumajang

Hukum dan Peristiwa

Terbaru