Lumajang, kabarjelas.com – Penutupan total Jalur Gumitir yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi resmi berlangsung selama sekitar satu bulan ke depan. Penutupan ini dilakukan untuk proses perbaikan jalan nasional yang mengalami kerusakan parah, namun dampaknya langsung terasa luas: kelangkaan BBM bersubsidi di Jember dan antrean panjang di SPBU Lumajang.
Pantauan kabarjelas.com pada Selasa (28/7/2025), antrean kendaraan mengular hingga ke badan jalan nasional di SPBU 54.673.03, Desa Kebonan, Kecamatan Klakah, Lumajang. Warga menyebut antrean ini tak lepas dari banyaknya kendaraan dari Kabupaten Jember yang turut antre BBM di wilayah Lumajang.
“Kemarin sepi, tapi sejak pagi ini mulai banyak orang Jember antre di sini,” ujar Faisol, warga setempat.
Warga harus antre hingga tiga jam untuk mendapatkan Pertalite. Meskipun stok BBM di Lumajang masih tersedia, masyarakat khawatir dampak kelangkaan akan meluas bila kondisi ini terus dibiarkan.
Penutupan Jalur Gumitir Berdampak Sistemik
Jalur Gumitir yang biasanya menjadi akses utama distribusi BBM dari Terminal BBM Tanjung Wangi, Banyuwangi, ke Kabupaten Jember kini ditutup total untuk keperluan perbaikan. Kondisi ini memaksa Pertamina mengalihkan rute distribusi melalui jalur alternatif yang lebih jauh dan sempit, yakni via Situbondo dan Bondowoso.
Sales Brand Manager Pertamina Area Jember, Hendra Saputra, menyatakan bahwa gangguan distribusi bukan karena kekurangan stok, tetapi semata akibat hambatan akses.
“BBM biasanya langsung masuk dari Banyuwangi ke Jember lewat Gumitir. Tapi karena jalur ditutup total selama sebulan untuk perbaikan jalan, maka kami alihkan,” ungkapnya, dikutip dari Surya.co.
DPR Desak Pertamina Ubah Jalur Pasokan
Merespons situasi ini, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Muhamad Nur Purnamasidi, meminta Pertamina segera bertindak cepat. Ia menyarankan agar pasokan BBM ke Jember diperkuat melalui jalur distribusi dari Surabaya atau Malang.
Related Posts:
“Jalur alternatif yang sekarang digunakan terlalu jauh dan terbatas. Kalau ditunggu sampai satu bulan, masyarakat makin kesulitan. Harus ada opsi distribusi dari Surabaya atau Malang,” ujar legislator yang akrab disapa Bang Pur itu.
Menurutnya, krisis ini harus direspons dengan kebijakan logistik yang lebih adaptif. Ia menekankan bahwa distribusi energi harus menjadi prioritas karena menyangkut hajat hidup masyarakat.
“Ini bukan krisis nasional, tapi krisis logistik. Kalau dibiarkan berlarut selama sebulan, dampaknya bisa sistemik,” tegasnya.
Saat ini, masyarakat Jember dan Lumajang berharap Pertamina dan pemerintah segera mencari skema distribusi BBM yang lebih efisien selama proses perbaikan Jalur Gumitir berlangsung.
(Rohmat)


















