Nusa Tenggara Timur, Kabarjelas.com — Tragedi yang menimpa seorang siswa di Nusa Tenggara Timur mengguncang nurani dunia pendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, H. Muhamad Nur Purnamasidi—akrab disapa Bang Pur—menyampaikan duka mendalam sekaligus peringatan keras agar negara tidak lagi lalai dalam melindungi hak dasar anak untuk mengenyam pendidikan yang layak.
“Ini bukan sekadar musibah bagi satu keluarga. Ini duka kolektif kita sebagai bangsa,” ujar Bang Pur saat dikonfirmasi. “Tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang merasa terhalang bersekolah hanya karena orang tuanya tidak sanggup memenuhi kebutuhan belajar paling dasar.”
Politikus Fraksi Partai Golkar itu menilai tragedi tersebut sebagai cermin buram yang memaksa semua pihak bercermin ulang, terutama dalam pelaksanaan berbagai program bantuan pendidikan yang selama ini dijalankan pemerintah.
Menurutnya, program seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Indonesia Pintar (PIP) sejatinya memiliki niat mulia, namun kerap terjebak pada rutinitas administratif yang mengabaikan realitas di lapangan.
Related Posts:
“Jangan sampai bantuan hanya rapi di atas kertas, tapi bocor di lapangan. Yang paling penting, bantuan itu benar-benar sampai dan dirasakan oleh anak-anak yang paling membutuhkan. Sistem tidak boleh tumpul terhadap penderitaan,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, Bang Pur memastikan akan mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap penyaluran bantuan pendidikan, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak ada lagi anak yang terlewat karena kelalaian sistem.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan di sekolah tidak melulu soal ekonomi. Kesehatan mental anak, menurutnya, masih kerap dipinggirkan dalam kebijakan pendidikan.
“Anak-anak kita menghadapi tekanan yang nyata. Pendampingan psikososial di sekolah itu penting. Guru perlu didukung agar mampu mengenali tanda-tanda anak yang sedang tertekan atau bermasalah. Ini tidak bisa dibebankan ke sekolah saja—harus ada kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan orang tua,” katanya.
Bang Pur berharap tragedi ini tidak berhenti sebagai kabar duka semata, tetapi menjadi titik balik bagi perbaikan nyata dalam sistem perlindungan dan pelayanan pendidikan nasional, agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman, manusiawi, dan berpihak pada masa depan setiap anak Indonesia.

















