Warga Jember Diajak Ubah Labu Kuning Jadi Produk Bernilai Jual Tinggi, Purnamasidi Gandeng BRIN Gelar Bimtek

JEMBER, Kabarjelas.com – Upaya menghadirkan riset yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat kembali didorong di Jember. Anggota DPR RI Muhamad Nur Purnamasidi menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk melatih puluhan peserta mengolah labu kuning menjadi minuman bernilai ekonomi dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang digelar di Hotel Aston Jember, Sabtu (14/3).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai pelaku usaha mikro, masyarakat, hingga pegiat pengolahan pangan lokal. Para peserta terlihat antusias menyimak pemaparan materi sekaligus praktik pengolahan minuman berbahan dasar labu kuning.

Dalam sambutannya, Purnamasidi menegaskan bahwa hasil riset dan inovasi tidak boleh berhenti pada ruang akademik semata. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian rakyat.

Ia menyebut kolaborasi antara wakil rakyat, lembaga riset, dan masyarakat menjadi langkah penting untuk menjembatani kesenjangan antara dunia penelitian dengan kebutuhan di lapangan.

“Melalui kegiatan seperti ini kita ingin memastikan hasil riset tidak hanya menjadi laporan ilmiah, tetapi bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, terutama untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal,” ujar Purnamasidi.

Menurutnya, komoditas pertanian seperti labu kuning memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah ekonomi. Dengan teknologi pengolahan yang tepat, bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk minuman yang memiliki daya jual lebih tinggi.

Sementara itu, narasumber dari BRIN R. Cecep Erwan Andriansyah, ST., MSi, dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan, menjelaskan berbagai aspek teknologi pengolahan pangan, khususnya pengolahan labu kuning menjadi minuman sirup.
Dalam pemaparannya, Cecep menjelaskan bahwa pengolahan hasil pertanian penting dilakukan untuk meningkatkan daya simpan serta mengurangi potensi kerusakan bahan pangan. Buah dan sayuran segar, termasuk labu kuning, secara alami mengalami perubahan fisiologis, kimia, dan fisik yang dapat menurunkan kualitas apabila tidak segera diolah.
“Pengolahan pangan menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan hasil panen yang melimpah sekaligus meningkatkan nilai ekonominya. Dengan teknologi yang tepat, labu kuning bisa diolah menjadi berbagai produk minuman yang bernilai jual,” jelasnya.
Ia juga memaparkan berbagai metode pengawetan pangan yang dapat diterapkan dalam proses produksi, seperti pengaturan suhu penyimpanan, pengurangan kadar air, fermentasi, hingga proses pemanasan atau pasteurisasi untuk membunuh mikroorganisme yang dapat merusak pangan.
Menurutnya, kerusakan bahan pangan umumnya disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme seperti bakteri, kapang, dan khamir, serta faktor kimia dan lingkungan. Karena itu, proses produksi harus dilakukan secara higienis dengan sistem pengemasan yang baik agar produk tetap aman dikonsumsi dan memiliki daya simpan lebih lama.
Selain pemaparan materi, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pengolahan minuman berbahan labu kuning, mulai dari proses pengolahan bahan baku, teknik pengawetan, hingga pengemasan produk.
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat mampu mengembangkan produk olahan berbasis potensi pangan lokal serta membuka peluang usaha baru di sektor industri pangan rumahan.

Sebarkan

Lumajang

Hukum dan Peristiwa

Terbaru