Lumajang,Kabarjelas.com. Tayangan program XPose Uncensored di stasiun televisi Trans7 pada 13 Oktober lalu menuai kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) yang menilai konten tersebut melecehkan kiai dan santri se-Indonesia.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar IKA-PMII, H. Muhamad Nur Purnamasidi, menyayangkan tayangan itu karena dianggap telah keluar dari etika jurnalistik dan sarat dengan informasi yang tidak berdasar.
“Dari narasinya saja sudah jelas keluar dari etika jurnalisme. Tentu ini tidak bisa dibenarkan dan menyalahi nilai-nilai moralitas bangsa”, ujar Bang Pur, sapaan akrab Sekjen PB IKA-PMII itu saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2025).
Bang Pur meminta manajemen Trans Corp mengambil langkah tegas terhadap tim produksi Trans7 yang melakukan kesalahan dalam produksi konten XPose Unsersored. Ia juga mendesak Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan penyelidikan mendalam terhadap tayangan tersebut.
Related Posts:
“Konten ini muncul di saat kami (santri) tengah bersiap menyambut Hari Santri Nasional pada 22 Oktober mendatang. Ini sangat disayangkan”, tambah pria yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi X DPR RI itu.
Sementara itu, atas video klarifikasi yang dibuat oleh Direktur Produksi Trans7, Andi Chairil dinilai belum cukup untuk mengobati rasa luka dan kekecewaan kalangan pesantren.
Ia meminta agar Trans7 tidak hanya melayangkan hak jawab atas kesalahan yang dibuatkan, namun juga harus memberikan porsi khusus tentang peran dan kontribusi pondok pesantren terhadap Bangsa dan Negara.
Sebagai seorang santri, Bang Pur menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama para kiai dan pesantren. “Saya santri, dan saya bersama kiai serta pondok pesantren”, pungkasnya.
Diketahui sebelumnya, Trans7 menayangkan program XPose Uncensored yang menampilkan narasi dan visual sensitif terkait santri, kiai, dan pondok pesantren. Tayangan tersebut juga diduga menggunakan konten dari Pondok Pesantren Lirboyo tanpa izin serta memuat narasi yang dinilai melecehkan dunia pesantren.




















