Jakarta, Kabarjelas.com – Video dan foto para korban banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera yang terpaksa menyantap mie instan tanpa dimasak memicu keprihatinan luas. Kondisi darurat yang memaksa para penyintas mengonsumsi makanan mentah itu menjadi alarm keras terkait kesiapan pangan saat bencana.
Anggota Komisi X DPR RI, H. Muhamad Nur Purnamasidi, termasuk sosok yang menyoroti serius kejadian tersebut. Dalam rapat dengar pendapat bersama Kemendiktisaintek dan BRIN, yang disiarkan melalui kanal YouTube Komisi X DPR RI pada Selasa (09/12/2025), Bang Pur—sapaan akrabnya—mengaku sangat miris melihat realitas di lapangan.
Ia menilai, potret penyintas yang mengunyah mie kering tanpa alat masak mencerminkan betapa rentannya pemenuhan pangan ketika dapur umum tidak tersedia, akses logistik terhambat, dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi.
“Sebagaimana yang disampaikan Pak Wamen tadi, bantuan logistik di lokasi bencana memang banyak didominasi mie instan dan bahan makanan sejenis. Tidak heran jika kemudian muncul di media korban yang makan mie tanpa dimasak,” ujar Bang Pur.
Sebagai anggota Komisi X yang bermitra dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ia mendesak lembaga tersebut untuk mulai memprioritaskan riset pangan darurat—makanan yang tidak membutuhkan proses memasak, namun tetap layak, aman, dan bergizi.
“Dalam kondisi darurat, masyarakat terpaksa makan apa adanya. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian serius, terutama bagi lembaga pemerintah yang memang fokus pada riset dan inovasi,” katanya.
Related Posts:
Menurut Purnamasidi, teknologi pangan darurat merupakan kebutuhan mendesak. Inovasi tersebut diperlukan agar para penyintas tetap mendapatkan nutrisi memadai tanpa risiko kesehatan akibat konsumsi makanan mentah atau tidak diolah sempurna.
Ia mendorong BRIN untuk melahirkan riset-riset yang lebih aplikatif, termasuk menciptakan produk pangan siap konsumsi yang tahan lama, praktis, dan bisa didistribusikan secara cepat ke wilayah terdampak bencana.
“Kita tidak boleh membiarkan kejadian seperti ini terus berulang. Negara harus hadir dengan teknologi yang mudah dan murah agar bisa digunakan masyarakat ketika bencana terjadi,” tegasnya.
Hingga kini, sejumlah wilayah di Sumatera—mulai Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh—masih berupaya memulihkan diri dari dampak banjir dan longsor. Meski distribusi logistik terus berjalan, penyediaan makanan siap saji dan layak konsumsi masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah yang terisolasi.
Penulis: Rokhmad

















