Lumajang,kabarjelas.com-Tenda-tenda putih itu berdiri berjajar di Blok Kamar A, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Lumajang. Di bawahnya, kursi-kursi kayu berwarna coklat tersusun sederhana, menghadap meja belajar seadanya. Kain terpal menggantikan dinding kelas, tanah menjadi lantai, dan perabot darurat menjadi sandaran anak-anak untuk tetap menulis dan bermimpi. Sejak erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025, inilah wajah baru SD Negeri Supiturang 02.
Tenda, meja, dan kursi coklat itu bukan hadir tanpa sebab. Seluruh fasilitas belajar darurat tersebut merupakan bantuan dari Muhamad Nur Purnamasidi, Anggota Komisi X DPR RI, yang sejak awal bencana berupaya memastikan proses belajar mengajar tidak terputus. Bantuan itu mungkin sederhana, tetapi cukup untuk membuat sekolah tetap bernapas.
Senin (16/01/2025), Purnamasidi kembali datang. Ini adalah kunjungan ketiganya pascabencana. Ia menyapa siswa-siswi yang duduk di kursi coklat, menunduk memperhatikan buku-buku tipis yang tersisa, dan berbincang dengan para guru yang tetap mengajar meski ruang kelas telah berganti tenda.
Tidak ada jarak seremonial. Bang Pur duduk sejajar, mendenga cerita tentang buku yang hilang disapu awan panas, tentang kelas yang kini bergantung pada cuaca. Tenda putih dan kursi coklat itu menjadi saksi: bangunan boleh runtuh, tetapi tekad untuk belajar tidak ikut roboh.
Di lokasi yang sama, Purnamasidi menggelar rapat darurat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, Pemerintah Desa Supiturang, serta tenaga pendidik dan kependidikan. Kursi-kursi coklat yang biasa dipakai siswa hari itu berubah fungsi—menjadi tempat duduk para pengambil keputusan. Tenda sekolah menjelma ruang rapat, membicarakan masa depan pendidikan Supiturang.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak pendidikan anak-anak korban bencana harus tetap menjadi prioritas, baik pada masa darurat maupun fase pemulihan. Menurutnya, perhatian publik sering kali mereda, sementara dampak bencana justru masih panjang.
Related Posts:
“Anak-anak ini tidak boleh menjadi korban berkepanjangan akibat bencana. Negara harus hadir memastikan mereka tetap mendapatkan layanan pendidikan yang layak dan berkelanjutan, terutama selama masa pemulihan pascabencana,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, ia meminta Dinas Pendidikan segera menyiapkan laporan kondisi sekolah darurat serta rencana penanganan dalam satu hingga dua bulan ke depan. Opsi pembangunan sekolah baru di lokasi aman maupun penggabungan dengan sekolah lain diminta dikaji secara serius.
“Kita harus sering berbagi informasi. Jika di daerah ada kendala, kami di pemerintah pusat bisa membantu, termasuk soal anggaran pendidikan,” tambahnya.
SD Negeri Supiturang 02 menjadi salah satu fasilitas umum yang terdampak langsung erupsi Semeru. Bangunan sekolah rusak berat, seluruh bahan ajar hilang tersapu material awan panas. Kini, tenda putih, meja belajar, dan kursi coklat menjadi pengganti ruang kelas—sementara, sederhana, namun sarat makna.
Di bawah tenda putih dan di atas kursi coklat itu, harapan terus disemai. Selama anak-anak masih bisa duduk dan belajar, Supiturang belum menyerah.


















