Lumajang, kabarjelas.com-Upaya merawat persatuan di tengah keberagaman terus digelorakan. Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar), H. Muhamad Nur Purnamasidi, menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Aula Muhammadiyah Kabupaten Lumajang, Minggu (28/12/2025).
Kegiatan yang mengusung tema “Menghargai Perbedaan, Mengutamakan Persatuan dalam Payung Empat Pilar” ini dihadiri tokoh-tokoh persyarikatan, pemuda Muhammadiyah, serta berbagai elemen masyarakat. Sosialisasi difokuskan pada penguatan nilai kebangsaan sebagai fondasi menjaga kerukunan sosial di tingkat lokal.
Dalam orasi kebangsaannya, legislator yang akrab disapa Bang Pur menegaskan bahwa perbedaan pandangan, pilihan politik, maupun latar belakang sosial merupakan keniscayaan dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi jurang perpecahan.
“Perbedaan itu sunatullah. Tetapi persatuan adalah pilihan yang harus terus kita jaga. Dalam urusan bangsa dan negara, kita semua berlindung di bawah payung yang sama, yakni Empat Pilar MPR RI,” tegas Bang Pur di hadapan peserta.
Ia menyebut Empat Pilar bukan sekadar konsep normatif, melainkan panduan hidup berbangsa yang mampu meredam gesekan sosial. Menurutnya, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah penyangga utama yang menjaga Indonesia tetap utuh di tengah dinamika zaman.
Bang Pur kemudian memaparkan peran strategis masing-masing pilar. Pancasila, kata dia, menjadi ideologi yang mengakomodasi nilai religiusitas, kemanusiaan, dan keadilan. UUD 1945 berfungsi sebagai jaminan hukum bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi. NKRI merupakan konsensus final yang tidak bisa ditawar, sementara Bhinneka Tunggal Ika menjadi pengingat bahwa keragaman adalah kekuatan, bukan ancaman.
Related Posts:
Dalam kesempatan itu, Bang Pur juga menyinggung pentingnya politik yang beretika dan santun. Ia mengajak masyarakat, khususnya di Lumajang, untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah persaudaraan, baik menjelang tahun politik maupun dalam dinamika sosial sehari-hari.
“Politik seharusnya menjadi jalan pengabdian, bukan alat perpecahan. Golkar menempatkan persatuan dan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama. Nilai moderasi dan musyawarah harus terus hidup di akar rumput,” ujarnya.
Pemilihan Aula Muhammadiyah sebagai lokasi kegiatan dinilai sarat makna. Selain menjadi ruang dialog kebangsaan, lokasi tersebut juga merepresentasikan sinergi antara wakil rakyat dan organisasi kemasyarakatan dalam membangun karakter bangsa.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta sepakat bahwa persatuan dan kerukunan sosial merupakan modal utama untuk mendorong pembangunan Kabupaten Lumajang yang berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa serta foto bersama sebagai simbol komitmen kolektif menjaga keutuhan NKRI di tengah keberagaman.


















