Jember,Kabarjelas.com. “Hidup saya belum nyaman” itulah kata kunci yang menjadi pedoman hidup bagi seorang Muhamad Nur Purnamasidi, atau yang akrab disapa Bang Pur.
Pesan itu disampaikan Anggota Badan Anggaran di Komisi X DPR RI itu saat menjadi pembicara dalam Inspiring Talks bertajuk “Dari Kampus ke Parlemen: Saatnya Gen Z Bicara”, yang digelar oleh Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Jember.
Di hadapan ratusan mahasiswa dalam aplikasi Zommmeeting, Bang Pur membagikan perjalanan hidup dan pengalamannya dalam dunia pendidikan hingga politik. Ia mengaku, prinsip “belum nyaman” menjadi motivasi untuk terus belajar, berbuat, dan memperbaiki diri.
“Kata kunci ‘saya belum nyaman’ ini terus saya jadikan pegangan hidup selama kurang lebih 28 tahun, sejak tahun 1997. Karena dari ketidaknyamanan itu, saya belajar untuk terus berkembang”, ujar Bang Pur.
Bang Pur kemudian mengajak Mahasiswa menjadi bagian dari peran peran publik, termasuk diantaranya pada porsi kepemimpinan publik. Sebab keberanian menjadi salah satu langkah kongkrit dalam proses pembelajaran dengan menganalisis antara teori dengan praktik.
Dalam kesempatan itu, Bang Pur menceritakan perjalanan kariernya yang dimulai dari bawah. Setelah menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, ia sempat menjadi guru pendamping di kawasan perkebunan Silosanen, tempat ia mengajar anak buruh perkebunan selama tiga tahun.
“Selama tiga tahun itu kemudian banyak keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan anaknya, dari yang sebelumnya memilih menjadi buruh perkebunan”, tambah pria yang juga dipercaya menjadi Sekjend KAUJE FISIP itu.
Ia pun bertekad untuk memperluas jaring sosial melalui kebijakan, hingga akhirnya pada Pemilihan Umum Tahun 2014. Bang Pur dipercaya menjadi salah satu wakil rakyat di Senayan hingga saat ini.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah mahasiswa mengajukan pertanyaan menarik. Ayu Dian Wardani dari Prodi Matematika menanyakan bagaimana Bang Pur tetap menguasai materi perkuliahan di tengah kesibukannya saat itu.
Menjawab hal itu, Bang Pur menegaskan pentingnya fokus dan komunikasi dua arah.
“Saya sering bertanya langsung kepada dosen tentang arah dan poin utama materi. Dari situ kita bisa fokus pada hal yang esensial”, jawabnya.
Sementara itu, Maywa Erzaki dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis menanyakan tantangan terbesar yang dihadapi selama berkarier di dunia politik.
Bang Pur mengakui, salah satu tantangan terberat adalah sistem politik Indonesia yang kini cenderung oligarkis.
Related Posts:
“Sejak reformasi, politik kita makin bergeser ke arah oligarki. Keputusan-keputusan penting sering diambil oleh segelintir orang. Itu tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai aktivis yang dulu bukan siapa-siapa”, ungkapnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam proses perubahan.
“Mulailah hari ini menyadari bahwa keadaan kita belum baik-baik saja. Dari kesadaran itu, kalian bisa mulai melakukan hal terbaik untuk membuatnya lebih baik”, pesan Bang Pur.
Menutup sesi diskusi, Bang Pur juga menyinggung pentingnya literasi dan kebiasaan membaca di tengah derasnya arus informasi digital, agar Mahasiswa tidak hanya kaya informasi namun memiliki kepekaan terhadap akurasi informasi.
Bahkan, diakhir sesi Bang Pur berjanji akan membagikan 10 buku kepada Mahasiswa yang secara virtual aktif mengikuti kegiatan ini.


















