Jember, KabarJelas.com – Suara musik gamelan yang lembut berpadu dengan lenggak-lenggok penari siswa-siswi SMP Negeri 7 Slawu, Kecamatan Patrang, menyambut kedatangan H. Muhammad Nur Purnamasidi, 14 Oktober Selasa pagi. Dalam suasana penuh semangat dan warna-warni busana tari tradisional, anggota Komisi X DPR RI dari Dapil Jember–Lumajang itu memulai kunjungan resesnya dengan cara yang sederhana namun bermakna: menemui para guru dan siswa di sekolah yang berdiri di jantung kota Jember itu.
Sebelum memasuki ruang pertemuan, Bang Pur—sapaan akrabnya—menyapa para siswa satu per satu sambil membagikan buku dan alat tulis. “Buku adalah kunci masa depan. Tulis mimpimu di sini, lalu kejarlah,” ujarnya dengan nada hangat. Senyum para siswa pun merekah; hadiah kecil itu terasa seperti pesan besar tentang pentingnya belajar.
Dalam pertemuan bersama guru dan siswa, Bang Pur berbagi kisah hidupnya. Ia mengenang masa remaja ketika harus berkeliling menjajakan es lilin demi biaya sekolah. “Waktu SMP, saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di sini sebagai anggota DPR tiga periode,” katanya. “Tapi hidup selalu memberi kesempatan pada mereka yang mau berjuang.” Ceritanya disambut tepuk tangan panjang dan pandangan kagum dari para siswa.
Related Posts:
Ia kemudian melanjutkan dengan cerita lain yang tak kalah menyentuh. Tahun 1997, sebelum terjun ke dunia politik, Bang Pur sempat menjadi guru honorer dengan gaji hanya Rp35 ribu per bulan. “Saya tahu rasanya menjadi guru yang digaji kecil tapi harus tetap bersemangat mengajar. Karena itu saya memahami betul perjuangan bapak dan ibu guru di lapangan,” ujarnya dengan nada pelan namun berisi. Pengalaman itu, katanya, menjadi alasan mengapa ia kini berjuang agar status guru dialihkan menjadi pegawai pusat. “Guru tidak boleh lelah mendidik bangsa, sementara nasibnya bergantung kemampuan fiskal daerah. Negara harus hadir,” tegasnya.
Di tengah suasana penuh semangat, Bang Pur memberi tantangan kepada siswa. “Siapa yang hafal bunyi Pasal 31 UUD 1945 Amandemen? Hadiahnya satu juta rupiah,” ujarnya. Beberapa siswa berani maju, namun hanya mampu menyebut separuh frasa. Bang Pur tersenyum, “Tak apa, separuh hafal sudah tanda separuh jalan menuju cita-cita.”
Acara kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab dan sambutan dari Kepala Sekolah SMPN 7 Slawu serta perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Sebelum menutup kegiatan, Bang Pur menyerahkan bantuan uang pembinaan sebesar Rp15 juta untuk OSIS sekolah tersebut. “Gunakan dengan bijak, buat kegiatan yang bermanfaat dan membanggakan sekolah,” pesannya.
Acara ditutup dengan peninjauan langsung ke beberapa ruang kelas yang mengalami kerusakan. Bang Pur melihat kondisi plafon dan dinding yang mulai rapuh, sambil berbincang dengan guru-guru mengenai kebutuhan sarana pendidikan di sekolah itu. “Sekolah harus menjadi tempat yang nyaman untuk belajar. Fasilitas yang rusak harus segera diperhatikan,” ujarnya sambil menatap ruang kelas yang catnya mulai pudar.
Kunjungan reses itu berakhir dengan pesan sederhana namun berdaya: pendidikan bukan hanya soal anggaran, tetapi tentang keberpihakan. Dari kisah seorang penjual es lilin dan guru bergaji Rp35 ribu yang kini duduk di Senayan, Bang Pur mengingatkan bahwa harapan bisa tumbuh di mana saja—asal ada kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, dan memperbaiki.


















