Jember, Kabarjelas.com – Anggota Komisi X DPR RI, H. Muhamad Nur Purnamasidi, yang akrab disapa Bang Pur, mengajak masyarakat Jember untuk menerapkan hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kegiatan ekonomi produktif. Ajakan itu disampaikannya saat membuka secara resmi Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Fish Jelly di Hotel Aston Jember, pada Sabtu (8/11/2025).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Komisi X DPR RI dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna. Bimtek diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku UMKM, petani ikan, hingga ibu rumah tangga yang tertarik mengembangkan produk olahan hasil perikanan.
Dalam sambutannya, Bang Pur menegaskan bahwa pelatihan berbasis riset seperti ini menjadi penting untuk mendorong masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penggerak inovasi di daerahnya.
“Saya berharap masyarakat yang diundang hari ini benar-benar mendapatkan ilmu dan bisa mempraktikkan hasil Bimtek ini. Riset yang dihasilkan BRIN harus sampai ke masyarakat dan menjadi pengetahuan yang bermanfaat,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, Bang Pur juga menyiapkan hadiah bagi 10 peserta yang paling aktif dan cepat tanggap selama mengikuti pelatihan. Ia menyebut langkah tersebut sebagai cara untuk menumbuhkan semangat belajar dan kreativitas di tengah masyarakat.
“Kolaborasi dengan BRIN ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Jember. Ini bukan sekadar pelatihan, tapi bukti nyata bagaimana hasil riset bisa hadir langsung di tengah masyarakat,” tambahnya.
Setelah sambutan, Bang Pur secara resmi membuka kegiatan Bimtek, disambut tepuk tangan antusias para peserta yang telah memadati ruang pertemuan Hotel Aston.
—
Materi Bimtek: Fish Jelly, Teknologi Pangan, dan Produk Unggulan Jember
Narasumber dari BRIN, Dr. Nila Kusumawaty, M.Si., memaparkan materi tentang teknologi pengolahan dan keamanan pangan yang berorientasi pada penerapan riset di bidang perikanan. Ia menjelaskan, fish jelly merupakan inovasi pangan modern berbasis protein ikan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan daerah.
Dalam presentasinya, Dr. Nila menampilkan berbagai contoh teknologi yang telah diterapkan dalam industri pangan, seperti frozen food, vacuum packaging, retort pouch untuk olahan rendang dan abon, serta pasteurisasi dan fermentasi untuk susu kambing. Ia juga menyoroti pentingnya sertifikasi produk pangan — mulai dari PIRT, Halal, BPOM, hingga HACCP — untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuka akses pasar yang lebih luas.
“Tantangan terbesar pelaku UMKM saat ini adalah terbatasnya fasilitas rantai dingin (cold chain), kemampuan teknis, dan biaya sertifikasi. Namun dengan pendampingan yang tepat, semua bisa dilalui bertahap,” jelasnya.
Dr. Nila juga memperkenalkan ragam produk olahan ikan unggulan khas Jember, seperti ikan layang asap, ikan betet bakar sambal kampung, abon lele, patin presto, keripik ikan, serta ekado berbahan campuran ikan dan ayam. Produk-produk ini dinilai mampu menjadi identitas kuliner lokal sekaligus peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir.
Selain paparan materi, peserta juga diajak mengikuti sesi praktik pembuatan fish jelly dan nugget ikan tenggiri. Mereka belajar langsung cara memilih bahan baku ikan segar, mengolah fillet ikan dengan campuran tepung tapioka, telur, wortel, dan bumbu rempah, hingga proses pencetakan dan pengemasan.
Peserta tampak antusias mencatat langkah-langkah pembuatan produk dan aktif bertanya mengenai strategi pemasaran, daya tahan produk, serta peluang penjualan daring.
Related Posts:
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa riset bukan hal yang rumit. Dengan ilmu sederhana, bahan lokal seperti ikan bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” kata Dr. Nila.
Menutup kegiatan, Bang Pur menyampaikan apresiasinya kepada BRIN atas kontribusi nyata dalam menyebarluaskan hasil riset untuk masyarakat. Ia menegaskan, DPR RI melalui Komisi X akan terus memperjuangkan kebijakan yang memperkuat pendidikan vokasi dan riset terapan sebagai pilar utama pemberdayaan ekonomi daerah.
“Kemandirian ekonomi tidak harus dimulai dari pabrik besar. Bisa dari dapur, dari ide, dan dari keberanian masyarakat untuk mencoba hal baru. Kalau riset diterapkan, kesejahteraan rakyat akan ikut naik,” pungkasnya.
Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab, foto bersama, dan penyerahan simbolis produk hasil praktik peserta. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa riset dapat “turun ke lapangan” dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.



















