Sekjen PB IKA-PMII: Saatnya Bersatu, Bencana Sumatera Harus Ditangani sebagai Bencana Nasional

PB IKA PMII
Sekretaris Jenderal PB IKA-PMII, Purnamasidi—yang dikenal luas dengan sapaan Bang Pur—mengatakan bahwa kondisi di Sumatera sudah melampaui batas kemampuan daerah dalam melakukan mitigasi. Ia menegaskan perlunya langkah luar biasa dari pemerintah pusat.

Jakarta, kabarjelas.com – Gelombang duka dan keprihatinan kembali menyelimuti Tanah Air. Banjir besar dan tanah longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam sepekan terakhir menimbulkan kerusakan luas dan korban jiwa yang terus bertambah. Menyikapi situasi darurat ini, Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA-PMII) menyerukan konsolidasi nasional untuk mempercepat penanganan bencana.

Sekretaris Jenderal PB IKA-PMII, Purnamasidi—yang dikenal luas dengan sapaan Bang Pur—mengatakan bahwa kondisi di Sumatera sudah melampaui batas kemampuan daerah dalam melakukan mitigasi. Ia menegaskan perlunya langkah luar biasa dari pemerintah pusat.

“Kita tidak sedang berhadapan dengan bencana biasa. Ini kejadian luar biasa yang merenggut ratusan nyawa dan memporak-porandakan banyak wilayah. Sudah saatnya semua elemen bangsa bersatu, bahu-membahu membantu pemerintah menyelamatkan para penyintas dan memulihkan daerah terdampak,” ujar Bang Pur dalam keterangan resminya, Minggu (30/11/2025).

Data BNPB per Sabtu (29/11) mencatat angka korban meninggal dunia di Sumatera Utara mencapai 166 orang, di Aceh 47 orang, dan di Sumatera Barat 90 orang. Ratusan lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang, sementara ribuan warga terpaksa mengungsi.

Melihat eskalasi situasi tersebut, Bang Pur mendesak pemerintah untuk segera menetapkan status Bencana Nasional. Menurutnya, kebijakan itu bukan hanya soal administratif, tetapi berkaitan langsung dengan kemampuan negara memobilisasi sumber daya secara terkoordinasi dan besar-besaran.

“Pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota tentu punya keterbatasan, baik tenaga maupun logistik. Penetapan Bencana Nasional akan membuka ruang mobilisasi yang lebih cepat dari pusat, termasuk dukungan keamanan karena sudah mulai muncul laporan penjarahan di beberapa titik,” jelas anggota DPR RI itu.

Selain menekankan percepatan penanganan, Bang Pur juga meminta pemerintah mengusut secara transparan penyebab banjir bandang yang menghancurkan banyak wilayah. Ia menilai masyarakat berhak mengetahui apakah bencana ini murni faktor alam atau ada unsur kelalaian manusia dalam pengelolaan lingkungan.

“Bencana ini harus dijadikan peringatan serius. Pemerintah, pelaku industri, dan kita semua harus kembali memuliakan lingkungan. Hutan dan alam bukan sekadar aset ekonomi, tetapi penyangga kehidupan. Kita perlu pertobatan ekologis bersama,” ujarnya.

Sebagai bentuk kepedulian, PB IKA-PMII membuka donasi publik melalui lembaga filantropi Gerakin (Gerak Kita untuk Indonesia Mendunia). Donasi tersebut akan disalurkan langsung bagi para korban di wilayah yang paling parah terdampak.

Bang Pur menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa solidaritas nasional adalah kunci melewati masa sulit ini. Dalam suasana berkabung, ia mengajak seluruh masyarakat memperkuat kepedulian sosial dan tidak membiarkan para penyintas menghadapi bencana ini sendirian.

Krisis Sumatera kembali mengingatkan bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga ujian bagi kemanusiaan dan kesadaran ekologis bangsa.

Sebarkan

Lumajang

Hukum dan Peristiwa

Terbaru